Selasa, 03 Juni 2014

Materi Kultum 2 juni "HATI - HATI Ummat Islam Dengan Metode HERMENEUTIKA"

Assalamualaikum Wr. Wb

Parahnya Metode Ini Sudah Mulai Masuk Ke Beberapa Universitas Islam Baik Negeri Ataupun Swasta.
Hermeneutika: Salah satu Metodologi Penafsiran dan Kritisme Bible. Metode ini digunakan di dalam menafsirkan dan mengkritisi Kitab Suci Untuk di Sesuaikan dengan Sains modern atau logika manusia, agar mudah dipahami oleh ummat. Seperti kalo ada ayat injil yang bertentangan atau bertubrukan dengan sains modern atau logika manusia, maka mereka akan menyesuaikannya dengan sains modern tersebut dan mengatakan kalo ayat tersebut salah dan perlu di revisi.
Metode ini di gagas oleh Martin Luther (Germany), juga salah seorang penggagas Gerakan Reformasi Protestan untuk menentang kekuasaan Gereja Katolik Roma soal Penafsiran Alkitab. Dan ingin penafsiran Alkitab di sesuaikan dengan Sains Modern. Dan salah satu tentangannya yang populer juga adalah soal Pengampunan Dosa Oleh Pihak Gereja.
Nah,,, Kalau Dalam Islam Metode Hermeneutika Ini Tidak Bisa Di Terapkan Untuk Penafsiran Alqur'an, Menafsirkan Ataupun Mengkritisi Alqur'an Dengan Menyesuaikan Terhadap Logika Manusia Dan Sains Modern. Karena Dalam Islam Alqur'an Bukanlah Karangan Manusia, Bukanlah Karangan Nabi Muhammad Sebagaimana Yang Di Tuduh Oleh Para Orientalis Dan Alqur'an Bukanlah Produk Budaya Sebagaimana Yang Dikatakan Oleh Orang-Orang Liberal Tapi Alqur'an Adalah Kalam Suci Dari Allah Dan Kita Tidak Mungkin Untuk Mengetahui Kondisi Sosial Allah Ketika Berfirman Karena Itu Rahasia Allah Dan Pengetahuan kita Terbatas. Sehingga Alqur'an Tidak Bisa Di Ganggu Gugat Meskipun Ada Ayat Alqur'an Yang Tidak Sesuai Dengan Sains Modern Dan Logika Manusia.
Namun sekarang hermeneutika adalah alat utama Orang-Orang Islam Liberal ketika menafsirkan Alqur’an. Islam liberal berpendapat bahwa Al Quran bisa kita tafsirkan dengan tafsir hermenetika karena Al Quran adalah muntaj tsaqofi (produk budaya), di sinilah letak perbedaan antara islam liberal dan islam pada umumnya dan karena ini pernah ada orang bernama Abu Zaid (Mesir) dia merupakan pengagas pertama penafsiran alqur’an dengan metode hermenetika yang kemudian divonis murtad oleh pemerintahan Mesir. Mungkin kita tidak akan menadapatkan titik temu antara kita dan islam liberal mengenai boleh atau tidaknya hermeneutika dalam penafsiran Al Quran selama kaum liberal masih berpendapat bahwa Al Quran adalah muntaj tsaqofi. Sebenarnya ketika seorang muslim telah meyakini bahwa Al Quran adalah muntaj tsaqofi maka secara tidak langsung dia menganggap bahwa Al Quran bukanlah kalam ilahi dan merupakan sebuah tindakan yang Murtad.
Banyak sekali contoh hasil penafsiran hermeneutika yang digunakan oleh islam liberal sebagai dasar dalam justifikasi terhadap penafsiran yang mereka lakukan. Sebagai contoh adalah perkawinan antar agama, seorang wanita muslimah boleh menikahi laki-laki kafir dengan berpedoman kepada ayat “fala tarjiuhunna ilal kuffar” al ayat. Wanita muslimah diharamkan menikah dengan lelaki kafir karena ketika ayat ini turun sedang zaman perang, tapi sekarang bukan zaman perang maka wanita muslimah boleh menikah dengan lelaki kafir.
Begitu pula dalam menafsirkan keharaman khomer, minuman keras, wiski dan sebagainya, islam liberal menilai bahwa khomer itu haram karena konteksnya udara arab panas maka ketika udara dingin maka khomer boleh untuk menghangatkan tubuh, oleh karena itu khomer boleh diminum di daerah dingin seperti kutub utara maupun selatan. Dan banyaklah lagi penafsiran-penafsiran yang berbeda dan dinilai menyesatkan. Yang perlu kita garis bawahi disini adalah bahwa menafsirkan Al Quran merupakan hal yang sensitif, dan kita harus berhati-hati dalam menafsirkan Al Quran karena Al Quran adalah kalam ilahi dalam sumber utama hukum islam. untuk menafsirkan Al Quran ada kaidah-kaidah serta ketentuan yang harus kita penuhi seperti kemampuan berbahasa arab (nahwu shorof, balaghoh dll), mengetahui asbabun nuzuz, tanasubul ayat,dll. Perlu diketahui juga bahwa cara-cara penafsiran yang dilakukan oleh salafus soleh adalah penafsiran yang mempunyai silsilah sanad dalam arti mempunyai sanad sampai rosulullah berbeda dan jelas berbeda dengan metode hermeneutika yang tidak mempunyai silsilah sanad sampai rosululloh dalam artian Rosululloh dan para Sahabat beliau serta kholifah setelahnya tidak pernah memakai metode ini.
Ini merupakan sebuah ironi, bagaimana hal itu bisa terjadi ?, penafsiran-penafsiran tersebut lebih cenderung kepada hawa nafsu dan syahwat serta jauh dari apa yang di ajarkan oleh Rosululloh. maka sudah sepatutnya kita sebagai ummat islam harus hati-hati terhadap penafsiran alqur’an yang tidak berdasar kepada Nabi Muhammad dan cenderung berdasar kepada Logika Manusia, Sains Modern Dan Hawa Nafsu. Sehingga tidak timbul sebuah kesesatan yang bisa menjauhkan kita dari Ridho Allah Azza Wa Jalla. Mudah-Mudahan kita selalu di lindungi oleh Allah dari segala godaan yang menjerumuskan kita kepada kesesatan. Aamiiin….
Wassalamualaikum Wr. Wb.
semoga bermanfaat

Tidak ada komentar :